Main Content RSS FeedRecent Articles

Status Perlindungan Hutan berdasarkan Undang-undang di Indonesia »

Status Perlindungan Hutan berdasarkan Undang-undang di Indonesia

 

Hutan merupakan sumberdaya alam yang mempunyai berbagai fungsi, baik ekologi, ekonomi, sosial, maupun budaya yang diperlukan untuk menunjang kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Berdasarkan UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, hutan memiliki tiga fungsi antara lain fungsi lindung, produksi, dan konservasi. Sebagai sumberdaya alam yang memiliki fungsi lindung, hutan memberikan perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah. Sebagai sumberdaya alam yang memiliki fungsi produksi, hutan mempunyai hasil-hasil hutan baik berupa kayu, bukan kayu, maupun produk turunannya, serta jasa lingkungan, yang dapat dimanfaatkan oleh manusia dan makhluk hidup lain untuk memenuhi kebutuhan hidup. Adapun fungsi konservasi dari hutan menjadikan hutan sebagai tempat untuk mengawetkan keanekaragaman tumbuhan, satwa, serta ekosistemnya.
Agar fungsi-fungsi tersebut dapat berjalan secara optimal dan lestari, maka usaha perlindungan terhadap hutan sangat perlu untuk dilakukan, baik berupa hutan lindung, hutan produksi, dan hutan konservasi, serta komponen ekosistem yang berada didalamnya. Perlindungan hutan merupakan perlakuan yang diberikan kepada hutan untuk mencegah dan membatasi terjadinya kerusakan hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan, yang disebabkan oleh faktor-faktor pengganggu. Adapun faktor-faktor pengganggu yang dapat menimbulkan kerusakan hutan yaitu faktor gangguan alam (seperti longsor, gempa bumi, gelombang pasang, serta serangan hama dan penyakit) dan faktor gangguan yang disebabkan oleh aktivitas manusia (seperti kebakaran hutan, pembukaan hutan untuk pemukiman atau sarana prasarana pembangunan lain, perambahan lahan, pengembalaan liar, dan illegal logging).
Peraturan-peraturan yang mengatur berbagai hal mengenai usaha-usaha perlindungan hutan sangat diperlukan agar usaha-usaha perlindungan hutan dapat diterapkan dengan baik dan mempunyai dasar hukum yang kuat. Oleh karena itu, pengkajian status perlindungan hutan ditinjau berdasarkan undang-undang yang telah ada saat ini perlu dilakukan.

Peraturan-peraturan Perlindungan Hutan di Indonesia


Peraturan-peraturan perlindungan hutan yang telah ada di Indonesia saat ini antara lain:

  1. Undang-undang Republik Indonesia No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya;
  2. Undang-undang Republik Indonesia No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman;
  3. Undang-undang Republik Indonesia No. 16 Tahun 1992 tentang Karantina, Hewan, Ikan, dan Tumbuhan;
  4. Undang-undang Republik Indonesia No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan;
  5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 4 Tahun 2001 tentang Pengendalian Kerusakan dan atau Pencemaran Lingkungan Hidup yang Berkaitan dengan Kebakaran Hutan dan Lahan;
  6. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 10 Tahun 2010 tentang Mekanisme Pencegahan Pencemaran dan/atau Kerusakan Lingkungan Hidup yang berkaitan dengan Kebakaran Hutan dan/atau Lahan.
Hal-hal yang dibahas berkaitan dengan usaha perlindungan hutan dalam peraturan-peraturan tersebut diatas secara ringkas dapat dilihat pada Tabel 1.

Apa itu Pohon Sehat? »

Suatu tanaman dikatakan sehat apabila tanaman itu tidak dirugikan oleh suatu faktor atau penyebab yang ikut campur tangan terhadap aktivitas dari sel-sel atau organ-organ tanaman yang normal, yang dampaknya terjadi penyimpangan dan merugikan pada tanaman tersebut. Tanaman sehat adalah identik dengan tanaman yang tidak terserang hama/penyakit. Didalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.03/MENHUT-V/2004 Bagian Kelima tentang Petunjuk Pelaksanaan Penilaian Kinerja Pelaksanaan Kegiatan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan, tanaman dinyatakan sehat  tanaman apabila tanaman tersebut memiliki pertumbuhan baik (daun dan batang segar), batang lurus, tajuk lebat dan tidak terserang hama dan penyakit.
 
Apakah pohon seperti ini yang disebut pohon sehat?
Agrios (1969) mendefinisikan tanaman sehat atau normal sebagai “A plant is healthy or normal when it can carry out its physiological function to the best of its genetic potential. These function include normal cell division, differentiaton and development: absorbtion of water and minerals from the soil and translocation of these throught the plant; photosynthetic product to areas of utilization or storage; metabolism of synthesized compound; reproduction; and storage of food supplier for overwintering or reproduction”.
Dari beberapa definisi diatas dapat diketahui bahwa secara umum pohon yang sehat dapat didefinisikan sebagai pohon yang dapat menjalankan fungsi fisiologisnya dengan baik karena tidak terganggu oleh jasad pengganggu dan dalam kondisi lingkungan yang sesuai sehingga menghasilkan tanaman yang tumbuh normal dan genetik yang baik, sehingga berdampak pada tidak turunnya nilai ekonomi dari tanaman tersebut.
Secara umum kita berpandangan bahwa pohon yang sehat adalah pohonyang tidak sakit. Dari sudut pandang tanaman, sakit itu adalah efek dari gangguan-gangguan yang dapat saja disebabkan oleh serangga ataupun jasad pengganggu lainnya, dan gejala/tanda yang ditimbulkan sering memiliki ciri yang sama atau serupa. Oleh karena itu, pohon yang sehat adalah pohon dengan kondisi tanaman yang tidak menunjukkan gejala/tanda pohon itu sakit.
Gejala dan tanda-tanda yang menunjukkan bahwa tanaman itu sakit adalah sebagai berikut:
A.    Gejala Utama (Main Symptoms)
–             Pertumbuhan yang tidak normal, dapat melebihi ukuran normal atau lebih kecil dari ukuran normal
–             Perubahan warna, baik pada daun, batang, akar, buah, bunga.
–             Matinya jaringan, bagian-bagian tanaman menjadi mengering
–             Layunya bagian dari tubuh tanaman
B.     Tanda-tanda (Signs)
Kelainan atau tanda-tanda dapat berupa benda-benda ataupun zat dari alat-alat tubuh dan alat pembiakan dari patogen penyebabnya, terdapat di bagian tanaman atau tampak dari luar.
C.     Gejala Lapangan (Field Symptoms)
–          Layunya tanaman secara keseluruhan
–          Nekrosis (matinya jaringan)
–          Perforasi (berlubang)-nya daun
–          Gall (bengkak) atau bintil dan bisul
–          Kanker
–          Bercak daun
–          Busuk basah, berair dan busuknya jaringan
–          Busuk kering, busuknya jaringan tetapi kering
–          Malformation (perubahan bentuk)
–          Oedeem, batang mengalami pembengkakan
–          Mummifikasi, kondisi seperti mumi, rapuh dan kering
–          Daun mengeriting atau bergelombang
–          Erinose, keluarnya cairan dari kulit batang
–          Hexeem bezem, cabang-cabang tak berkembang dan pendek seperti sapu
–          Kerdil
Dalam kondisi-kondisi tertentu, pohon yang sehat pun dapat ditandai dengan adanya gangguan hama yang tidak menyerang secara besar-besaran (menyebabkan kerugian ekonomi). Hal itu terjadi terutama apabila pemanfaatan hasil dari pohon, khususnya berupa buah, dilakukan. Contohnya pada pohon alpukat, pada musim-musim tertentu akan timbul banyak sekali hama dalam bentuk ulat yang menutupi hampir seluruh bagian pohon (terutama daun). Ulat-ulat yang berada pada pohon tersebut sangat berpengaruh terhadap akan dihasilkan atau tidaknya buah alpukat tersebut. Oleh karena itu, pada kasus ini justru pohon yang terkena hama ulat lah yang dianggap pohon sehat karena akan dapat menghasilkan tujuannya, yaitu produksi buah.

Hubungan Kebakaran Hutan dengan Serangan Hama dan Penyakit »

Kebakaran hutan membawa dampak yang besar pada keanekaragaman hayati. Hutan yang terbakar berat akan sulit dipulihkan, karena struktur tanahnya mengalami kerusakan. Hilangnya tumbuh-tumbuhan menyebabkan lahan terbuka, sehingga mudah tererosi, dan tidak dapat lagi menahan banjir. Karena itu setelah hutan terbakar, sering muncul bencana banjir pada musim hujan di berbagai daerah yang hutannya terbakar. Kerugian akibat banjir tersebut juga sulit diperhitungkan.
Kebakaran Hutan

Hasil penelitian Syaufina et al. (2005) menunjukkan bahwa dampak kebakaran hutan terhadap vegetasi dan tanah bervariasi tergantung pada beberapa faktor, antara lain: tipe hutan, jenis vegetasi, faktor iklim, intensitas kebakaran dan jenis tanah. Tipe kerusakan pohon yang berupa akar dan batang terbuka, luka pada akar dan batang bagian bawah, luka batang bagian bawah, dan kerusakan tajuk ditemukan lebih banyak pada areal yang terbakar dibandingkan pada areal yang tidak terbakar. Kebakaran dapat menyebabkan kerusakan fisik pada pohon, seperti luka terbuka, kerusakan daun, kerusakan batang dan kerusakan lainnya. Lebih lanjut, kebakaran dapat menyebabkan peningkatan kepekaan dari pohon terhadap serangan hama dan penyakit. Luka/kerusakan pohon yang terjadi akibat kebakaran ini dapat menjadi salah satu lokasi masuknya patogen. Secara fisik kebakaran hutan sangat merugikan bagi produktivitas hutan baik secara langsung maupun tidak langsung. Kejadian kebakaran akan memberikan dampak terhadap pohon yang ada dalam hutan. Menurut Davis (1959), masing-masing jenis pohon mempunyai kepekaan yang berbeda-beda terhadap pemanasan akibat kebakaran. Ketahanan pohon akibat kebakaran dalam keadaan tertentu disebabkan oleh tebalnya kulit dan besarnya batang. Sedangkan Bakshi (1956); Stoddard (1959) dan Soeratmo (1979) mengemukakan bahwa akibat kebakaran terhadap pohon menimbulkan pelukaan pada pohon yang dapat mengakibatkan pertumbuhan pohon terganggu serta memudahkan hama dan penyakit berkembang.

Kultur Jaringan Tanaman: Pengertian dan Prinsip Dasar »

Pengertian Kultur Jaringan

Kultur jaringan dalam bahasa asing disebut juga tissue cultureweefsel cultur, ataugewebe cultur. Kultur jaringan berarti membudidayakan suatu jaringan tanaman menjadi tanaman kecil yang memiliki sifat seperti induknya (Suryowinoto 1991). Zulkarnaen (2009) menyatakan bahwa kultur jaringan merupakan suatu upaya mengisolasi bagian-bagian tanaman (protoplas, sel, jaringan, dan organ), kemudian mengkulturkannya pada nutrisi buatan yang steril di bawah kondisi lingkungan terkendali sehingga bagian-bagian tanaman tersebut  dapat beregenerasi menjadi tanaman yang lengkap kembali. Menurut Gamborg dan Shyluk (1981), tipe-tipe kultur berdasarkan macam eksplan yang diigunakan dalam sistem kultur jaringan tanaman yaitu kultur organ (termasuk pucuk, meristem, potongan daun, akar, tunas), kultur kalus, kultur sel, dan kultur kloroplas.
Contoh Kultur Jaringan Tanaman
(Sumber foto: http://idcapricornus.wordpress.com)
Prinsip Dasar Kultur Jaringan

Menurut Santoso dan Nursandi (2003), kultur jaringan mengandung dua prinsip dasar yaitu bahan tanam yang bersifat totipotensi dan budidaya yang terkendali. Totipotensi sel merupakan suatu konsep yang menyatakan bahwa setiap sel hidup memiliki potensi genetik untuk menghasilkan organisme yang lengkap (Hartman et al. 1990). Asnawati et al. (2002) menyatakan bahwa totipotensi sel merupakan kemampuan setiap sel untuk tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang sesuai dengan membawa karakter masing-masing yang independen. Dengan mengisolasi setiap sel dari tanaman dan meregenerasikannya pada media yang sesuai maka akan diperoleh tanaman baru yang membawa karakter dari masing-masing sel tersebut. Santoso dan Nursandi (2003) menyatakan bahwa dengan sifat totipotensi ini, sel, jaringan, organ yang digunakan akan dapat berkembang sesuai arahan dan tujuan budidaya in vitro yang dilakukan. Sifat totippotensi lebih banyak dimiliki oleh bagian tanaman yang masih juvenile, muda, dan banyak dijumpai pada daerah-daerah meristem tanaman.

Daftar Pustaka
  • Asnawati, Wattimena GA, Machmud M, Purwito A. 2002. Studi regenerasi dan produksi protoplas mesofil daun beberapa klon tanaman kentang (Solanum tumberosum L.) Buletin Agronomi 20 (3):87-91.
  • Hartman HT, Kester DE, Davis-Jr FT. 1990. Plant Propagation: Principles and Practices. New Jersey: Practice-Hall International, Inc.
  • Santoso U, Nursandi F. 2003. Kultur Jaringan Tanaman. Malang: Universitas Muhammadiya Malang Press.
  • Suryowinoto M. 1991. Pemuliaan Tanaman secara In Vitro. Yogyakarta: Kanisius.
  • Zulkarnaen. 2009. Kultur Jaringan Tanaman: Solusi Perbanyakan Tanaman Budi Daya. Jakarta: Bumi Aksara.

Manfaat Kultur Jaringan »

Menurut Zulkarnaen (2009), aplikasi kultur jaringan tanaman memiliki manfaat utama yaitu perbanyakan klon atau perbanyakan masal dari tanaman yang sifat genetiknya identik satu sama lain.
Contoh Kultur Jaringan Tanaman
(Sumber foto: http://c4himoet.wordpress.com)
Adapun manfaat-manfaat lain dari kultur jaringan dalam beberapa hal khusus yaitu:
  1. Perbanyakan klon secara tepat
  2. Kondisi aseptik
  3. Produksi tanaman sepanjang tahun
  4. Pelestarian plasma nutfah
  5. Memperbanyak tanaman yang sulit diperbanyak secara vegetatif konvensional

Perbanyakan klon secara tepat

Pada prinsipnya, dengan menggunakan tekni kultur jaringan setiap sel dapat diinduksi untuk beregenerasi menjadi individu tanaman lengkap dengan sifat genetik yang identik satu sama lain. Dalam waktu singkat dapat dihasilkan individu tanaman dalam jumlah yang besar.
Kondisi aseptik
Kultur jaringan tanaman mampu menyediakan bahan tanaman yang bebas patogen dalam jumlah yang besar. Melalui kultur meristem, dapat diregenerasikan tanaman yang bebas virus.
Produksi tanaman sepanjang tahun

Teknik kultur jaringan tidak tergantung pada musim  sehingga melalui teknik ini, terbuka peluang untuk memperbanyak tanaman di sepanjang tahun.
Pelestarian plasma nutfah

Kebutuhan akan ruang yang kecil dan mudahnya menciptakan kondisi yang sesuai menjadikan kultur jaringan sebagai suatu cara yang praktis untuk menyimpan bahan tanaman dari genotip terpilih bak tanaman pertanian maupun tanaman langka yang terancam punah.
Perbanyakan tanaman yang sulit diperbanyak secara vegetatif konvensional
Melalui teknik kultur jaringan dapat dilakukan manipulasi terhadap lingkungan kultur (perlakuan hormon, cahaya, suhu) atau dengan menggunakan bahan eksplan yang memiliki daya meristematik tinggi. Hal ini terutama dilakukan terhadap jenis tanaman yang sangat sulit diperbanyak secara vegetatif konvensional.

Daftar Pustaka
  • Zulkarnaen. 2009. Kultur Jaringan Tanaman: Solusi Perbanyakan Tanaman Budi Daya. Jakarta: Bumi Aksara.

 

* * *

Artikel ini juga di-post-kan pada blog saya lainnya:

http://ghinaghufrona.blogspot.com/2011/08/manfaat-kultur-jaringan.htmlSemoga bermanfaat

Fungsi Ekologis Hutan Tropika serta Keterkaitannya terhadap Struktur dan Karakter Hutan Tropika »

Fungsi Ekologis Hutan Tropika serta Keterkaitannya terhadap Struktur dan Karakter Hutan Tropika

Oleh: R Rodlyan Ghufrona, S.Hut

Fungsi ekologis dari hutan tropika terbagi menjadi dua kelompok, yaitu:
  1. Perlindungan terhadap proses-proses interaksi yang terjadi antara hutan dan lingkungan (proteksi),
  2. Konservasi habitat dari flora dan fauna yang terdapat dalam hutan (konservasi).
Fungsi hutan tropika dalam hal proteksi yaitu produksi oksigen dan penyerap karbon, sebagai pencegah erosi dan banjir, serta perlindungan tata air. Fungsi hutan dalam hal konservasi yaitu sebagai habitat satwa liar dan sumber gen (plasma nutfah) yang selanjutnya sebagai penyokong keanekaragaman hayati (biodiversity).
Gambar 1  Hutan Hujan Tropika di Indonesia
Sumber: http://andimanwo.wordpress.com

 

Produksi oksigen dan penyerap karbon dioksida
Fungsi hutan yang paling penting adalah produksi oksigen. Tanpa adanya oksigen maka tidak akan ada kehidupan karena seluruh makhluk hidup di dunia ini, baik hewan, manusia, dan tumbuhan, membutuhkan oksigen dalam melangsungkan hidupnya. Fungsi hutan sebagai penghasil oksigen tak dapat dipisahkan dengan fungsi hutan sebagai penyerap karbon. Dalam menjalankan kedua fungsi tersebut, proses interaksi antara hutan dan lingkungan yang terjadi sangat berkaitan proses fotosintesis dan siklus karbon. Hutan, yang merupakan kumpulan dari banyak pohon, menjalankan proses fotosintesis (yang merupakan salah satu bagian dari siklus karbon) yang menyerap karbondioksida di atmosfer dan kemudian disimpan dalam bentuk biomassa berupa daun, batang, akar, maupun buah, serta menghasilkan oksigen ke udara yang akan dipergunakan oleh manusia, hewan, dan tumbuhan dalam melakukan respirasi (Gambar 2). Proses fotosintesis yang dijalankan oleh pohon-pohon dalam hutan tersebut sangat berguna dalam mengurangi dampak perubahan iklim global (global climate change mitigation) karena dapat mengurangi jumlah karbon di udara sebagai gas rumah kaca penyebab pemanasan global (global warming).
Jika dikaitkan dengan karakternya, fungsi hutan tropika tersebut diatas dapat terjadi karena hutan tropika mempunyai karakter yang selalu hijau sepanjang tahun (evergreen) dan menjalankan proses siklus hara tertutup (closed nutrient cycle). Karakter hutan tropika yang evergreen mengakibatkan fotosintesis dapat terjadi sepanjang tahun sehingga daya serap terhadap karbon di udara di hutan tropika akan lebih tinggi dibanding hutan dan ekosistem lainnya yang berada di luar kawasan tropis (hutan temperate, hutan boreal, padang rumput, gurun, dan sebagainya). Karakter hutan tropika yang selalu hijau tersebut juga mengakibatkan pertumbuhan tinggi dan diameter pohon-pohon dalam hutan dapat berlangsung sepanjang tahun sehingga menghasilkan biomassa sebagai simpanan karbon yang besar. Selain itu, dalam proses siklus hara tertutup, daun-daun yang berguguran dan batang pohon yang mati (nekromassa) di lantai hutan terdekomposisi kedalam tanah oleh bakteri pengurai dan menghasilkan berbagai unsur hara yang kemudian diikat oleh mikroorganisme dalam tanah seperti mikoriza dan rhizobium yang bersimbiosis dengan akar. Proses siklus hara tertutup tersebut mengakibatkan banyak karbon di udara hasil penyerapan dalam proses fotosintesis yang juga tersimpan dalam tanah.

Pencegah erosi dan banjir, serta pengatur tata air

Hutan memiliki peran sebagai pencegah erosi dan banjir, serta pengatur tata air. Dalam menjalankan fungsi tersebut, proses interaksi hutan dan lingkungan sangat berkaitan dengan siklus hidrologi yang terjadi. Dalam siklus hidrologi, terjadi penguapan air dari tanaman, tanah, dan air (laut, danau, sungai, dan air terbuka lainnya) yang disebut juga evapotranspirasi, kemudian air menguap ke atmosfer dalam bentuk uap air dan terkondensasi di udara membentuk awan lalu kemudian terjadi hujan atau dapat disebut juga presipitasi. Air hujan tersebut dapat langsung jatuh ke permukaan tanah sehingga terjadi aliran permukaan (run-off) dan dapat pula jatuh melalui tajuk pohon (throughfall) kemudian mengalir melalui batang (stemflow) dan terserap kedalam tanah (infiltration) menjadi aliran bawah permukaan (sub-surface runoff) maupun tersimpan dalam tanah menjadi air tanah (ground water storage). Siklus hidrologi secara lengkap dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3  Siklus hidrologi.
Daerah iklim tropika memiliki curah hujan yang tinggi dalam setahun dibandingkan dengan daerah dengan iklim temperate dan kutub. Hal itu mengakibatkan adanya tegakan hutan tropika sebagai penutup permukaan tanah menjadi penting. Peranan hutan tropika dalam mencegah banjir dan longsor serta pengaturan tata air sangat erat kaitannya dengan karakter hutan tropika yang memiliki tajuk berstratifikasi dan selalu hijau sepanjang tahun. Stratifikasi tajuk hutan tropika yang berlapis-lapis menyebabkan air hujan tidak langsung jatuh ke permukaan tanah sehingga tidak terjadi erosi permukaan maupun longsor (jika berada di lahan dengan kemiringan tinggi) dan tidak mengalir diatas permukaan tanah yang akan mengakibatkan banjir, tetapi mengalir melalui tajuk (through-fall) kemudian melalui batang (stemflow), lalu sesampainya di permukaan tanah air meresap ke dalam tanah (infiltration) yang kemudian mengalir dalam bentuk aliran bawah permukaan tanah dan tersimpan dalam tanah dalam bentuk air tanah. Peranan stratifikasi tajuk dalam perlindungan tata air serta pencegahan erosi dan banjir disajikan pada Gambar 4.
Gambar 4  Peranan stratifikasi tajuk dalam perlindungan tata air serta pencegahan erosi dan banjir
Konservasi habitat dari flora dan fauna yang terdapat dalam hutan
Peranan hutan tropika dalam mengkonservasi habitat flora dan fauna juga sangat erat kaitannya dengan karakter hutan tropika yang memiliki tajuk yang berstratifikasi. Pada setiap lapisan tajuk hutan tropika, terdapat flora dan fauna yang spesifik hidup di lapisan tajuk tersebut, baik sebagai tempat beristirahat, berkembang biak, dan mencari makanan. Fungsi hutan tropika dalam mengkonservasi habitat dari flora dan fauna menjadi penyokong fungsi biodiversitas hutan

* * *

Artikel ini juga di-post-kan pada blog saya lainnya:

http://ghinaghufrona.blogspot.com/2011/10/fungsi-hutan-tropika-secara-ekologis.html

Semoga bermanfaat

Prinsip-prinsip Ekologi Hutan Tropika »

Prinsip-prinsip Ekologi Hutan Tropika

R Rodlyan Ghufrona, Rifa’atunnisa, dan Berry Oktavianto
 

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara yang memiliki hutan tropika terluas di dunia setelah Brazilia di Amerika Selatan dan Zaire di Afrika sehingga menyimpan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia (Whitmore 1975; MacKinnon et al. 2000). Hutan merupakan salah satu komponen penting untuk menjaga kestabilan ekosistem di bumi karena berupa hamparan vegetasi raksasa yang berperan dalam mengeluarkan oksigen (O2), menyerap karbon dioksida (CO2), menimbun karbon (C) dalam bentuk bahan organik (Carbon pool), serta memompa udara yang mengandung uap air ke lautan dan daratan.
Hutan diartikan sebagai masyarakat tumbuhan yang didominasi oleh pepohonan dan memiliki keadaan yang berbeda dengan lingkungan di luarnya, dan didalamnya terdapat interaksi antara komponen biotik dan abiotiknya. Jika ditalaah lebih dalam lagi mengenai peran hutan maka disadari bahwa hutan sangat erat hubungannya dengan peradaban manusia. Sejalan dengan perkembangan peradaban, ilmu pengetahuan dan teknologi manusia, makin banyak bukti ilmiah yang mampu menjelaskan bentuk-bentuk ketergantungan kehidupan dan perkembangan peradaban manusia di muka bumi ini terhadap hutan.
Sementara itu, sejalan dengan tingginya jumlah penduduk dunia yang terus meningkat dari waktu ke waktu, dan diikuti dengan peningkatan kemakmuran kehidupannya, maka kebutuhan akan ketergantungan ini akan semakin meningkat. Pada kenyatannya pemanfaatan hutan sering tidak disesuaikan dengan daya dukungnya. Hasilnya kini banyak dikemukakan data mengenai laju degradasi hutan yang fantatis nilainya. Selain pemanfaatan yang melebihi daya dukungnya sehingga ekosistemnya rusak dan pada akhirnya melampaui batas toleransi kerusakan, rusaknya hutan juga disebabkan oleh tingginya kompetensi yang disebabkan faktor abiotik yaitu air, cahaya, ruang tumbuh, maupun unsur hara. Pada akhirnya kerusakan hutan akan mengganggu fungsi akar dan menghilangnya stratifikasi tajuk, kehilangan biodiversity dan penurunan terhadap produktivitas tegakan.
Kemudian apa yang dapat dilakukan untuk memperbaiki hutan dan komponen yang ada didalamnya mengingat peran hutan yang tidak dapat dipisahkan dengan peradaban manusia. Kuncinya adalah pengelolaan hutan yang berbasis dengan ekologinya, dan perbaikan yang disesuaikan dengan prinsip dari kaidah ekologi masing-masing kondisi hutan.
Ilmu ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara komponen biotik dan abiotik, antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Oleh karena ilmu ekologi erat hubungannya dengan tumbuh-tumbuhan dan keadaan tempat hidupnya, maka akan terkait dengan ilmu lainnya seperti pada ilmu geologi dan goemorfologi yang membicarakan mengenai pengaruh keadaan geologi dan geomorfologi yang mempengaruhi pembentukan dan sifat-sifat tanah serta penyebaran dan hidup tumbuh-tumbuhan, ilmu tanah yang akan berbicara banyak mengenai kesuburan, produktivitas dan pembenah tanah, kemudian terkait juga dengan ilmu klimatologi, geografi tumbuh-tumbuhan, fisiologi dan biokimia, genetika tumbuh-tumbuhan dan masih banyak lagi keterkaitan dengan ilmu-ilmu yang lain.
Setiap hutan mempunya ciri khas atau karakter tersendiri sehingga keberadaannya dikatakan berbeda dengan keadaan diluar lingkungan hutan. Karakter dan struktur dalam hutan inilah yang akan menjadikan hutan mempunyai fungsi sehingga dapat bermanfaat bagi kehidupan dan peradaban manusia. Dalam bahasan tulisan ini akan lebih mendalam diceritakan mengenai prinsip-prinsip ekologi pada hutan tropik. Hutan hujan tropika akan menjadi fokus utama dalam bahasan kami karena Hutan hujan tropis diketahui menyokong keberagaman terbesar dari organisme hidup di bumi.
Hutan hujan tropis adalah tipe hutan dengan pohon-pohon yang tinggi, iklim yang hangat, dan curah hujan yang tinggi. Di beberapa hutan hujan, curah hujannya lebih besar dari 1 inchi per hari. Hutan hujan dapat ditemukan di Afrika, Asia, Australia, serta Amerika Tengah dan Selatan. Hutan hujan terbesar di dunia adalah hutan hujan Amazon. Hutan hujan dapat dijumpai di daerah tropis, daerah di antara Capricorn Tropis dan Cancer Tropis. Di daerah ini, matahari bersinar sangat kuat dan dengan kuantitas waktu yang sama setiap hari sepanjang tahun, sehingga menjadikan iklim hangat dan stabil. Banyak negara memiliki hutan hujan. Negara-negara dengan jumlah hutan hujan terbesar adalah: (1) Brazil, (2) Kongo Republik Demokratik, (3) Peru, (4) Indonesia, (5) Kolombia, (6) Papua Nugini, (7) Venezuela, (8) Bolivia, (9) Meksiko, dan (10) Suriname. Hutan hujan tropika memiliki peranan penting dalam dunia internasional yaitu perannya dalam menstabilkan iklim dunia dengan cara menyerap karbon dioksida dari atmosfer. Pembuangan karbon dioksida ke atmosfer terbukti memberikan pengaruh bagi perubahan iklim melalui pemanasan global. Oleh karena itu, hutan hujan tropika mempunyai peran yang penting dalam mengatasi pemanasan global dan mempengaruhi kondisi cuaca lokal dengan membuat hujan dan mengatur suhu.
Dalam skema (Gambar 1) digambarkan mengenai prinsip-prinsip yang penting dalam ekologi yang menjadi kunci bagi pengelolaan hutan secara lestari dan prinsip-prinsip dalam merestorasi atau mengembalikan hutan sesuai dengan peruntukannya. Pengelolaan hutan lestari diartikan sebagai suatu sistem pengelolaan hutan yang menjamin keberlanjutan fungsi dan manfaat sumberdaya hutan dengan memperhatikan fungsi ekonomi, sosial dan lingkungan secara seimbang.
Struktur hutan dapat diartikan sebagi sesuatu yang dapat dilihat dari hutan tersebut seperti adanya keanekaragaman jenis, stratifikasi tajuk, ordinasi pohon, tinggi pohon, diameter pohon, biomassa, dan serasah hutan. Sedangkan karakter dari hutan hujan tropika sebagai penciri yang membedakan dari tipe hutan yang lain adalah adanya biodiversity, stratifikasi tajuk, dan siklus hara tertutup. Keberadaan struktur hutan hujan tropika dan adanya penciri atau karakter dari hutan hujan menyebabkan hutan hujan dapat berfungsi.
Fungsi hutan hujan tropika dapat dikelompokkan kedalam fungsi ekologi, produksi, biodiversity, dan recovery. Fungsi-fungsi ini ada dengan dukungan berbagai proses-proses metabolisme pada pohon diantaranya proses fotosintesis dan respirasi. Pemanfaatan hutan baik secara langsung maupun tidak langsung jika tidak disertai pemeliharaan dan manajemen pengelolaan yang baik sesuai dengan daya dukungnya maka akan menyebabkan hutan tersebut rusak dan berakibat hutan tersebut tidak bisa lagi berfungsi sebagaimana mestinya.
Salah satu penyebab utama perusakan hutan hujan tropika adalah penebangan hutan. Banyak tipe kayu yang digunakan untuk perabotan, lantai, dan konstruksi diambil dari hutan tropis di Afrika, Asia, dan Amerika Selatan. Dengan membeli produk kayutertentu, orang-orang di daerah seperti Amerika Serikat secara langsung membantu perusakan hutan hujan. Hilangnya hutan primer juga dapat menyebabkan kehilangan spesies, memberikan dampak terhadap hidrologi dan tanah seperti banjir, erosi, sedimentasi dan longsor, menimbulkan gangguan kesehatan, terjadinya kehilangan hasil hutan, memberikan dampak terhadap sektor ekonomi, dan hilangnya nilai estetika hutan. Walau penebangan hutan dapat dilakukan dalam aturan tertentu yang mengurangi kerusakan lingkungan, kebanyakan penebangan hutan di hutan hujan sangat merusak. Pohon-pohon besar ditebangi dan disarad sepanjang hutan, sementara jalan akses yang terbuka membuat para petani miskin mengubah hutan menjadi lahanpertanian. Di Afrika para pekerja penebang hutan menggantungkan diri pada hewan-hewan sekitar untuk mendapatkan protein. Mereka memburu hewan-hewan liar seperti gorila, kijang, dan simpanse untuk dimakan. Penelitian telah menemukan bahwa jumlah spesies yang ditemukan di hutan hujan yang telah ditebang jauh lebih rendah dibandingkan dengan jumlah yang ditemukan di hutan hujan utama yang belum tersentuh. Banyak hewan di hutan hujan tidak dapat bertahan hidup dengan berubahnya lingkungan sekitar.
Hutan hujan tropika menghilang dengan sangat cepat. Berita baiknya adalah banyak orang yang ingin menyelamatkan hutan hujan tropika. Berita buruknya adalah menyelamatkan hutan hujan tropika tidak akan mudah. Ini akan membutuhkan usaha banyak orang yang bekerja bersama dalam rangka menjaga hutan hujan dan kehidupan alam liarnya dapat bertahan agar anak-anak kita dan generasi selanjutnya dapat menghargai dan menikmatinya. Manajemen pengelolaan yang yang lestari, pemeliharaan hutan, dan perbaikan hutan adalah mekanisme dalam mencapai hutan yang lestari.
Pada akhirnya, tulisan ini menggarisbawahi bahwa dalam pengelolaan hutan hendaknya mengikuti prinsip-prinsip ekologi dalam upaya memperbaiki hutan yang telah rusak untuk dikembalikan lagi sesuai fungsinya ataupun dalan memelihara hutan yang sudah lestari agar tetap lestari.

* * *

Artikel ini juga di-post-kan pada blog saya lainnya:

http://ghinaghufrona.blogspot.com/2011/11/prinsip-prinsip-ekologi-hutan-tropika.html

Semoga bermanfaat

SISTEM PERINGATAN DINI KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN »

Sistem peringatan dini (Early Warning System) kebakaran hutan dan lahan merupakan suatu sistem yang dibentuk untuk dapat memperingatkan tingkat bahaya terjadinya kebakaran hutan dan lahan di suatu lokasi sebelum terjadi. Sistem tersebut dibentuk berdasarkan faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi mudah terbakarnya vegetasi dan biomassa, tingkat penyebaran, kesulitan pengendalian, dampak kebakaran dan faktor klimatologis, serta kemajuan teknologi.

Sistem peringatan dini kebakaran hutan dan lahan di Indonesia ditunjukkan dengan Sistem Peringkat Bahaya Kebakaran (Fire Danger Rating System) sebagai sistem peringatan dini bahan kebakaran. Di Indonesia, sistem ini dikembangkan olehCanadian Forest Service (ICFS) dan lembaga pemerintah seperti Kementerian Kehutanan, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan Badan Koordinasi Nasional (Bakornas), yang didukung dana hibah dari Canadian Internasional Development Agency (CIDA). Keluaran dari sistem peringatan dini tersebut berupa peta tentang kemudahan dimulainya api, tingkat kesulitan pengendalian api, dan kondisi kekeringan di wilayah Indonesia.
Secara global di dunia, sistem peringatan dini kebakaran hutan dan lahan dapat ditunjukkan dengan Sistem Peringatan Dini Global untuk Kebakaran Hutan yang disebut dengan Global EWS. Global EWS ini menyediakan perkiraan 1-7 hari data sistem peringatan dini kebakaran hutan dan lahan berdasarkan prakiraan lingkungan global dari National Centers for Environmental Prediction (NCEP) yang bertempat di Amerika Serikat (USA). Global EWS menyajikan enam komponen yang mewakili kekeringan bahan bakar dan perilaku kebakaran potensial pada tingkat lansekap, antara lain:
  1. Fire Weather Index (FWI), yang merupakan indikator umum dari bahaya kebakaran dan intesitas kebakaran;
  2. Buildup Index (BUI), yang menujukkan kekeringan bahan bakar yang mati dalam ukuran sedang maupun besar;
  3. Initial Spread Index (ISI), yang merupakan indikator penyebaran laju api;
  4. Drought Code (DC), yang menujukkan tingkat kekeringan yang mendalam di lapisan organik yang kompak di lantai hutan;
  5. Duff Moisture Code (DMC), yang menunjukkan tingkat kekeringan lapisan organik di atas lantai hutan, sering digunakan sebagai prediktor petir yang dapat menyebabkan kebakaran;
  6. Fine Fuel Moisture Code (FFMC), yang merupakan indikator kekeringan bahan bakar mati, sering digunakan sebagai prediktor penyebab kebakaran berupa manusia dan petir.
Jika hasil peringatan dini menujukkan indikasi berpotensi terjadiya kebakaran (misalnya, pada daerah tropis berupa indikasi akan terjadinya kemarau panjang), maka dilakukan tindakan-tindakan sebagai berikut:
  1. Penyebaran peringatan dini melalui media lokal (cetak dan elektronik) agar diketahui oleh kelompok target pemanfaat hutan, politisi, masyarakat, dan pengelola lahan lainnya;
  2. Memantau aktivitas di sekitar lahan dan hutan, terutama daerah rawan, melalui patroli harian;
  3. Menyebarluaskan informasi larangan pembakaran;
  4. Melakukan persiapan, pelatihan, dan penyegaran untuk semua petugas terkait dan masyarakat dalam usaha-usaha pemadaman kebakaran hutan;
  5. Merencanakan penanggulangan bersama dengan masyarakat, LSM, dan perusahaan-perusahaan di sekitar hutan;
  6. Memastikan ketersediaan peralatan pemadaman dan semua peralatan berfungsi dengan baik;
  7. Melakukan pertemuan dan komunikasi secara rutin antara masyarakat, perusahaan, LSM, dan petugas pemadam kebakaran

* * *

Artikel ini juga di-post-kan pada blog saya lainnya:

http://ghinaghufrona.blogspot.com/2011/12/sistem-peringatan-dini-kebakaran-hutan.html

Semoga bermanfaat

Erasmus Mundus Scholarship Program (Deadline Feb 16th 2012) »

EXPERTS II 

(Erasmus Mundus Partnership in South and South-East Asia II)

EXPERTS  II  (the successor of EXPERTS I and the selection process will BEGIN in 2012) are scholarship projects funded by the European Commission targeted at citizens of Bangladesh, Bhutan, China, India, Indonesia, Nepal, Pakistan, the Philippines, Sri Lanka and Thailand.

In accordance with the EMA2 call, the objective of the EXPERTS project is to facilitate collaborations between Higher Education Institutions (HEIs) from South and Southeast Asia (SSEA) and EU through the exchange of information in science and policy issues while sharing key issues of sustainable development in academic cooperation.

The project provides the following mobility scholarships from South and South-East Asia to European partner universities (Please note- there are no scholarships from EU to SSEA)

  • Undergraduate and graduate students
  • PhD students
  • PostDocs
  • Staff (both academic and administrative)

The EXPERTS aims to establish an innovative framework for capacity development of junior faculty staff, undergraduates, postgraduates, and postdoc researchers through training and upgrading their skills in specified fields of study through a scheme of structured mobility.

Note:

  • In order to be an elegible candidate, you must have not resided nor have carried out your main activity (studies, work, etc.) for more than a total of 12 months over the last five years in one of the European countries.
  • No student, and no academic staff member can benefit from more than one mobility activity within the same project.
  • There are no mobility flows for students and academic staff between institutions in SSEA countries of the partnership. Mobility is only from SSEA countries to Europe.

For more information, please visit: http://expertsasia.eu/index.asp

Macam-macam Bentuk Daun »

Sungguh indah bukan melihat banyak tumbuh pepohonan di sekitar kita?

Dengan banyak tumbuhnya pohon dan tumbuhan lainnya di sekitar kita, maka suhu udara lingkungan sekitar kita akan terasa sejuk, gas rumah kaca yang berlebih di udara penyebab global warming akan terserap, terhindar dari banjir dan longsor, dan sebagainya.

Namun, apakah pernah kita perhatikan daun-daun yang tumbuh pada pohon dan tumbuhan lain tersebut punya berbagai macam bentuk yang unik?

Dalam posting-an pertama saya di blog ini, saya mencoba share mengenai macam-macam bentuk daun yang ada di sekitar kita, yang dalam ilmu kehutanan dapat kita pelajari dalam bidang ilmu dendrologi (ilmu yang mempelajari tentang pohon). Artikel ini merupakan artikel re-post dari blog saya lainnya di http://ghinaghufrona.blogspot.com. Semoga bermanfaat.

Macam-macam Morfologi Daun

 

Bentuk-bentuk Daun

 

Masing-masing dedaunan yang tumbuh di berbagai tumbuhan di dunia ini memiliki ciri khas yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut ditunjukkan dari berbagai hal, yaitu bentuk daun keseluruhan, bentuk ujung dan pangkal daun, permukaan daun, dan tata daunnya (Tabel 1).

Read the rest